Konflik Palestina-Israel: Dalam Dunia Sastra dan Dunia Nyata

Sosial & Humaniora

Share this :

Penulis: Fadlil Munawwar Manshur

ISBN: 0

Dilihat: 104 kali

Stock: 0

Ditambahkan: 05 June 2024

Rp0,00

Maaf buku ini sedang tidak tersedia


Nakba atau Nakbah dalam bahasa Arab mempunyai arti "bencana" atau "musibah", yaitu pengusiran besar-besaran penduduk Palestina oleh Israel selama Perang Arab-Israel pada tahun 1948. Peristiwa Nakba disebut tragedi karena bermula dari konflik panas antara bangsa Arab dan bangsa Yahudi sejak tahun 1930-an. Pada tahun 1930 ada peningkatan migrasi Yahudi yang dipicu oleh persekusi terhadap mereka di Eropa, ditambah lagi dengan munculnya gerakan Zionis yang bertujuan untuk mendirikan negara Yahudi di Palestina. Hal ini yang memicu kemarahan dan perlawanan rakyat Palestina terhadap Israel. Api semangat perlawanan rakyat Palestina tersebut secara faktual telah melahirkan kreativitas di kalangan para sastrawan Arab dengan lahirnya puisi-puisi dan cerita pendek (cerpen) Arab yang berisi perlawanan rakyat Palestina terhadap Israel. Puisi-puisi dan cerpen-cerpen perlawanan itu dimuat di surat kabar-surat kabar Arab sehingga lahirlah apa yang disebut dengan "Sastra Nakbo" di dunia Arab, khususnya di Palestina. Ciri khas puisi dan cerpen perlawanan rakyat Palestina terhadap Israel tersebut diwujudkan dalam bentuk iltizam, yaitu puisi atau cerpen yang berisi komitmen rakyat Palestina terhadap perjuangannya dalam memerdekakan tanah airnya, Palestina, yang dirampas oleh Israel. Bentuk puisi dan cerpen Arab berbentuk /Itizam ini memuat cara menulis atau cara menciptakan seni berpuisi dan seni bercerpen yang bermuatan politik yang didasarkan pada kekhawatiran rakyat Palestina terhadap stagnasi gerakan politik melalui sarana sastra.

Pada November 1947, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengesahkan sebuah Resolusi yang membagi Palestina menjadi dua negara, yaitu negara Yahudi—Israel dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya yang berada di bawah administrasi PBB, dan yang satu lagi negara Arab—Palestina. Dunia Arab menolak Resolusi tersebut dengan alasan pembagian itu dianggap tidak adil karena melanggar Piagam PBB. Dalam kondisi kisruh seperti itu, milisi Yahudi—Israel melancarkan serangan terhadap desa-desa Palestina yang mengakibatkan ribuan orang Palestina mengungsi ke negara-negara Arab lain. Akibatnya, terjadilah perang terbuka antara Arab—Palestina dengan Yahudi—Israel pada tahun 1948. Selanjutnya, dengan berakhirnya mandat dan kepergian pasukan Inggris, dideklarasikanlah kemerdekaan negara Yahudi—Israel. Permusuhan permanen antara Palestina dengan Israel ternyata hampir tidak pernah berhenti, bahkan eskalasinya cenderung meningkat dari waktu kewaktu.

Permusuhan permanen tersebut kembali terjadi pada tanggal 7 Oktober 2023. Peristiwa ini mengejutkan dunia international, dunia Arab, dan dunia lslam. Akhirnya, kawasan Timur Tengah kembali memanas karena serangan tiba-tiba oleh kelompok Hamas Palestina terhadap Israel di wilayah perbatasan Gaza, tepatnya, pasukan Palestina menyerang Divisi Gaza, sebuah benteng pertahanan militer Israel di Gaza. Hamas menamai serangan mereka sebagai "Operasi Badai Al-Aqsha" yang dalam bahasa Arab disebut Thaufan Al-Aqsha. Filosofi Thaufan Al-Aqsho ini adalah badai yang dahsyat dan ganas yang dapat membawa kematian dan kerusakan yang luas. Thaufan Al-Aqsha juga diartikan sebagai "gelombang besar kemarahan rakyat Palestina." Serangan Palestina yang mengejutkan dunia itu telah menghancurkan Divisi Gaza Israel yang terkenal kuat dan kokoh. Serangan itu sebagai simbol politik utama dan dianggap sebagai tonggak awal kemenangan Palestina.