Fort De Kock dan Depresi Ekonomi: Catatan Suksesnya Kongres XIX Muhammadiyah di Bawah Empasan Badai Malaise

Sosial & Humaniora

Share this :

Penulis: Fikrul Hanif Sufyan

ISBN: -

Dilihat: 26 kali

Stock: 0

Ditambahkan: 14 July 2024

Rp0,00

Maaf buku ini sedang tidak tersedia


Fort de Kock adalah nama yang disematkan pada Bukittinggi pada masa kolonial. Keindahan alamnya yang eksotis, ditambah lubang karabao (Karbauwengat)—penamaan di masa kolonial Belanda untuk Ngarai Sianok—yang memukau tiap-tiap mata yang memandang, membuat Fort de Kock booming, terutama di kalangan para pelancong. Namun, siapa yang pernah menduga, di masa depresi ekonomi melanda dunia, ranah kelahiran Bung Hatta ini menjadi tuan rumah perhelatan akbarnya Muhammadiyah.

Penunjukan Fort de Kock selaku tuan rumah Kongres ke-19 Muhammadiyah adalah kali pertama di luar Jawa. Di Kongres ke-18 di Solo, Kiai Fachrodin meminta pada utusan asal Minangkabau agar bersedia menjadi tuan rumah berikutnya untuk menyelenggarakan acara besar di luar tanah Jawa. Pengalamannya dua kali kunjungan ke Sumatra Westkust dan menyaksikan semaraknya Islam modernisyang bergerak bersama Muhammadiyah menjadi satu dari sekian sebab Kiai Fachrodin terpesona dengan pesatnya persyarikatan di ranah Minang.

Kongres yang diadakan pada tahun 1930 merupakan sebuah kegiatan besar yang diadakan di tengah-tengah krisis ekonomi yang lazim disebut molaise, sesuatu yang tak pernah diduga sebelumnya oleh para pengurus Muhammadiyah Cabang Bukittinggi yang ditunjuk menjadi tuan rumah. Meski secara umum kondisinya tidak begitu baik, ternyata pelaksanaan Kongres Muhammadiyah ke-19 di Bukittinggi, yang sering disebut sebagai Kongres Muhammadiyah Minangkabau, yang diselenggarakan pada 14-21 Maret 1930 berjalan amat sukses.