Lahan Gambut: Pengembangan Konservasi dan Perubahan Iklim

Lingkungan

Share this :

Penulis: Muhammad Noor

ISBN: 979-420-738-1

Dilihat: 3772 kali

Ditambahkan: 21 December 2016

Lahan gambut sebuah ekosistem alami bernilai tinggi karena mempunyai keanekaragaman hayati, sebagai pengatur iklim, dan tempat bergantungnya hidup jutaan penduduk. Pembukaan lahan gambut, pengatusan berlebih, dan kebakaran yang sering terjadi dinilai sebagai penyumbang emisi gas rumah kaca, seperti CO2, CH4, dan N2O yang menjadi “bom waktu” bagi lingkungan dalam 50-100 tahun mendatang. Komitmen Indonesia pada dunia secara sukarela merencanakan penurunan 26% dan sampai 41% emisi gas rumah kacanya dengan bantuan negara lain sampai pada tahun 2020, di antaranya 9,5-13% dari lahan gambut memerlukan rencana dan program aksi.

Rp64.000,00

Maaf buku ini sedang tidak tersedia


Masalah gambut mendapatkan perhatian serius seiring dengan semakin kuatnya isu perubahan iklim dan pemanasan global. Lahan gambut sebuah ekosistem alami bernilai tinggi karena mempunyai keanekaragaman hayati, sebagai pengatur iklim, dan tempat bergantungnya hidup jutaan penduduk. Pembukaan lahan gambut, pengatusan berlebih, dan kebakaran yang sering terjadi dinilai sebagai penyumbang emisi gas rumah kaca, seperti CO2, CH4, dan N2O yang menjadi “bom waktu” bagi lingkungan dalam 50-100 tahun mendatang. Komitmen Indonesia pada dunia secara sukarela merencanakan penurunan 26% dan sampai 41% emisi gas rumah kacanya dengan bantuan negara lain sampai pada tahun 2020, di antaranya 9,5-13% dari lahan gambut memerlukan rencana dan program aksi.
Namun di sisi lain, dorongan pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian dan perkebunan semakin pesat seiring dengan kondisi nasional dan lingkungan strategis. Kondisi “lapar tanah” akhir-akhir ini semakin dirasakan karena konversi lahan, kebutuhan pangan dan energi untuk penduduk yang lebih seperempat milyar. Dorongan kuat dari investor dan masyarakat untuk memanfaatkan lahan gambut yang lama tidur untuk perkebunan sawit bagi pemerintah daerah dipandang merupakan peluang untuk meningkatkan pendapatan daerah dan masyarakat yang sebagian besar tergolong miskin.

Rangkaian pengembangan lahan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Sulawesi memberikan pembelajaran sangat baik. Pemanfaatan gambut dimulai sejak program kolonisasi tahun 1930-an, program transmigrasi pada tahun 1970 1995-an, Proyek PLG Sejuta Hektar pada tahun 1995-1999 di Kalimantan Tengah dilanjutkan Percepatan Rehabilitasi dan Revitalisasi kawasan PLG Sejuta Hektar pada tahun 2007-2011 memberikan banyak catatan penting tentang gambut. Pengembangan lahan gambut memerlukan basis saintifik dan teknologi yang mumpuni dan sejatinya mengikuti kaidah-kaidah “pengelolaan lahan gambut berkelanjutan”. Pemahaman tentang perilaku lahan gambut dan perubahan-perubahan pascareklamasi serta pemanfaatan kearifan lokal sebagai sumber informasi empirik merupakan kunci utama dalam menyiasati kendala dan meraih keberhasilan pengusahaan lahan gambut yang berkelanjutan.

  • Bahasa Teks Buku Indonesia
  • Cetakan Kedua, Januari 2016
  • Tebal 212 halaman
  • Ukuran 14,5 cm x 21 cm
  • Kode Buku L008
  • Categories Lingkungan, Sains & Teknologi