Peran Surabaya Dalam Revolusi Nasional 1945

Sosial & Politik

Share this :

Penulis: Moehkardi

ISBN: 978-602-386-903-9

Dilihat: 1244 kali

Stock: 29

Ditambahkan: 10 November 2020

Membaca buku ini, kita bisa mengikuti pecahnya peristiwa 10 November 1945 di Surabaya secara detail dari hari ke hari, hingga puncak peristiwa dan rentetan peristiwa setelahnya. Kejadian yang diperingati setiap tahun sebagai Hari Pahlawan, dibahas dengan menarik. Ada beberapa kisah yang mungkin baru diketahui setelah membaca buku ini, termasuk sejarah Kota Surabaya yang diperkirakan lahir antara tahun 1334-1352 M.

Rp45.000,00

Rp60.000,00

Membaca buku ini, kita bisa mengikuti pecahnya peristiwa 10 November 1945 di Surabaya secara detail dari hari ke hari, hingga puncak peristiwa dan rentetan peristiwa setelahnya. Kejadian yang diperingati setiap tahun sebagai Hari Pahlawan, dibahas dengan menarik. Ada beberapa kisah yang mungkin baru diketahui setelah membaca buku ini, termasuk sejarah Kota Surabaya yang diperkirakan lahir antara tahun 1334-1352 M.

Ketika pasukan Sekutu pimpinan Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby tiba di Surabaya pada 25 Oktober 1945, rakyat sedang bergelora semangat kebangsaannya. Meski pemerintah pusat RI di Jakarta dan pemerintah daerah Surabaya sudah berusaha secara maksimal dalam mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, 3 hari kemudian tetap pecah pertempuran sengit antara rakyat Surabaya dan tentara Sekutu. Pasukan Inggris nyaris hancur jika tidak diselamatkan oleh gencatan senjata. Peristiwa ini mengejutkan Mallaby, yang karier militernya dinilai cemerlang (menjadi Brigjend dalam usia 42 tahun), sehingga seorang penulis sejarah bernama J.G.A. Perrot dalam makalahnya berjudul "Who Kill Brigadier Mallaby?", menyalahkan jenderal tersebut atas kekacauan yang terjadi dan situasi yang membuatnya terbunuh.

Kematian Mallaby membuat pasukan Inggris murka. Pertempuran paling sengit dalam sejarah Surabaya pun pecah, bahkan mungkin di Indonesia. Penulis sejarah Inggris, Letkol Doulton menyebutkan perlawanan rakyat Surabaya di medan tempur beringas seperti orang gila. Yang mungkin tidak diketahui, ternyata banyak penduduk luar kota yang justru berbondong-bondong ke Surabaya membantu bertempur. Api semangat perlawanan menjalar ke berbagai daerah di Indonesia. Pengaruhnya tidak hanya di Jawa, tetapi di Aceh, Makassar, dan Bali.

Di balik kisah-kisah heroik tersebut, buku ini jujur menceritakan kisah kelam revolusi dan intrik-intrik di tubuh TKR. Salah satu contohnya adalah peristiwa penculikan R. Mohamad, Panglima Komandemen TKR Jawa Timur oleh Mayor Sabaruddin yang merupakan bawahannya sendiri. Bagaimana kejadian sesungguhnya? Silakan membaca sendiri buku ini. Semoga banyak hikmah yang bisa dipetik!