Pedoman Diagnostik Mikroskopis Malaria

Kedokteran Umum

Share this :

Penulis: Tri Baskoro Tunggul Satoto

ISBN: 978-602-386-168-2

Dilihat: 2931 kali

Stock: 0

Ditambahkan: 05 November 2018

Kemampuan mengerjakan pemeriksaan mikroskopis dapat berkurang apabila tidak dipertahankan atau ditingkatkan dalam waktu tertentu. Misalnya, pada penggunaan pemeriksaan ulang (cross-check) yang tidak dibutakan (blinded) akan menurunkan kemampuan pemeriksa ulang (cross-checker) dan apabila hal ini dilakukan terus-menerus maka kegiatan pemeriksaan ulang (cross-checking) tidak banyak memberikan hasil. Semua hal ini mendorong betapa perlunya meningkatkan pemeriksaan mikroskopis supaya diagnosis mikroskopis dapat ditegakkan dengan maksimal.

Rp70.000,00

Maaf buku ini sedang tidak tersedia


Malaria merupakan penyakit tropis yang sulit diberantas sehingga masih endemik di berbagai negara tropis, termasuk Indonesia. Banyak faktor yang menyebabkan kegagalan dalam penanggulangan malaria. Salah satu faktor tersebut ialah kegagalan diagnosis. Kegagalan diagnosis dapat dimulai di tingkat desa atau puskesmas pada waktu pemeriksaan mikroskopis untuk mengidentifikasi adanya parasit malaria di sediaan darah yang dibuat di desa atau di puskesmas. Banyak kebiasaan yang kurang baik pada pemeriksaan mikroskopis yang mendorong terjadinya kesalahan diagnosis malaria, misalnya pembuatan sediaan darah (SD) yang kurang baik, pengecatan yang kurang memenuhi syarat, pemeriksaan mikroskopis menggunakan jenis mikroskop dengan penyinaran yang tidak optimal, perbesaran yang kurang, dan mikroskop yang kotor, rusak, atau tidak terpelihara.

Kondisi tubuh seorang mikroskopis tidak sama sehingga pemeriksaan mikroskopis dengan menggunakan cairan tertentu yang tidak tepat dapat mengurangi ketahanan seorang mikroskopis pada waktu pemeriksaan.

Kemampuan mengerjakan pemeriksaan mikroskopis dapat berkurang apabila tidak dipertahankan atau ditingkatkan dalam waktu tertentu. Misalnya, pada penggunaan pemeriksaan ulang (cross-check) yang tidak dibutakan (blinded) akan menurunkan kemampuan pemeriksa ulang (cross-checker) dan apabila hal ini dilakukan terus-menerus maka kegiatan pemeriksaan ulang (cross-checking) tidak banyak memberikan hasil. Semua hal ini mendorong betapa perlunya meningkatkan pemeriksaan mikroskopis supaya diagnosis mikroskopis dapat ditegakkan dengan maksimal.