Tanggal Posting

  • February 18, 2026

Share

FK-KMK UGM MENGGELAR BEDAH BUKU PRINSIP-PRINSIP RISET IMPLEMENTASI UNTUK TEKANKAN KOMITMEN DISEMINASI

FK-KMK UGM MENGGELAR BEDAH BUKU PRINSIP-PRINSIP RISET IMPLEMENTASI UNTUK TEKANKAN KOMITMEN DISEMINASI

Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM kembali menggelar forum akademik melalui kegiatan bedah buku bertajuk Prinsip-Prinsip Riset Implementasi pada Selasa (18/2). Agenda ini dilaksanakan secara bauran dengan partisipasi 76 peserta hadir langsung di Auditorium Lantai 1 Gedung Tahir Foundation FK-KMK UGM serta 69 peserta mengikuti secara daring melalui Zoom.

Kegiatan ini menjadi pembuka rangkaian bedah buku tahun 2026 sekaligus wadah diseminasi gagasan terkait riset implementasi yang ditulis oleh Dekan FK-KMK UGM, Yodi Mahendradhata. Buku tersebut menyoroti pentingnya menjembatani hasil penelitian dengan praktik kebijakan dan layanan kesehatan di lapangan.

Acara dibuka oleh Wakil Dekan Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM, Ahmad Hamim Sadewa. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa dinamika perkembangan desain riset—baik di bidang klinis maupun kesehatan masyarakat—menuntut pendekatan implementatif yang lebih adaptif. Menurutnya, buku ini menjadi refleksi penting bagi dunia akademik dalam memperkuat literasi kesehatan dan memastikan hasil riset tidak berhenti di ranah publikasi semata.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Manajer UGM Press, I Wayan Mustika. Ia mengapresiasi budaya menulis yang berkembang di lingkungan UGM, termasuk kontribusi signifikan FK-KMK yang menyumbang sekitar seperlima dari total terbitan UGM Press dalam lima tahun terakhir. Menurutnya, buku ini memperkaya perspektif tentang bagaimana riset dapat diterjemahkan menjadi kebijakan publik dan intervensi kesehatan yang berdampak nyata.

Dalam sesi pemaparan, Prof. Yodi mengungkapkan bahwa buku tersebut lahir dari refleksi pengalamannya mengajar riset implementasi. Ia melihat banyak penelitian berkualitas tinggi dengan bukti ilmiah kuat, namun menghadapi kendala ketika diterapkan di lapangan. Perbedaan paradigma antara akademisi dan pelaksana kebijakan kerap menjadi tantangan utama. Melalui buku ini, ia berupaya menawarkan kerangka kerja yang membantu peneliti merancang riset yang lebih kontekstual dan aplikatif.

Menurutnya, akademisi perlu memiliki ketegasan dalam merumuskan masalah berbasis pendekatan ilmiah, memperjelas variabel luaran, kerangka teori, kapasitas, serta tanggung jawab dalam proses akademik. Dengan demikian, riset tidak hanya kuat secara metodologis, tetapi juga relevan dalam praktik.

Sejumlah pembahas turut memberikan tanggapan kritis. Etik Retno Wiyati menilai buku ini penting dalam memperkuat ekosistem kebijakan kesehatan berbasis bukti. Ia menegaskan bahwa riset implementasi memegang peran strategis dalam mendukung transformasi sistem kesehatan nasional.

Sementara itu, Ahmad Fuady dari Universitas Indonesia menyoroti urgensi translasi riset ke dalam kebijakan sebagai fondasi praktik kedokteran berbasis bukti. Ia memandang buku ini sebagai panduan teknis sekaligus konseptual untuk mendorong diseminasi hasil penelitian ke tingkat yang lebih luas, baik nasional maupun global.

Pandangan senada disampaikan Denny Anggoro Prakoso dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Ia menilai implementasi riset merupakan proses yang kompleks dan membutuhkan strategi matang. Dengan 12 bab yang disajikan secara sistematis dan mudah dipahami, buku ini diharapkan menjadi referensi teknis yang memperkuat praktik riset implementasi di Indonesia.

Melalui kegiatan ini, FK-KMK UGM menegaskan komitmennya dalam memperluas dampak riset bagi masyarakat. Forum tersebut juga sejalan dengan upaya mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada aspek kesehatan yang berkualitas, pendidikan bermutu, serta penguatan kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan kebijakan berbasis bukti.