Tanggal Posting

  • August 30, 2022

Share

BEDAH BUKU MEMBACA TAMANSISWA DARI DEKAT (BUDAYA ORGANISASI DI TAMANSISWA)

BEDAH BUKU MEMBACA TAMANSISWA DARI DEKAT (BUDAYA ORGANISASI DI TAMANSISWA)

Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (DMKP FISIPOL) UGM menyelenggarakan bedah buku Membaca Tamansiswa dari Dekat (Budaya Organisasi di Tamansiswa) pada Selasa (30/8) di Ruang Auditorium BB Lantai 4 FISIPOL UGM. Ria Putri Palupijati, penulis buku Membaca Tamansiswa dari Dekat (Budaya Organisasi di Tamansiswa), hadir untuk memaparkan isi bukunya. Sri Ratna Saktimulya, Kepala Pusat Studi Kebudayaan UGM; Tri Suparyanto, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa; dan Ario Wicaksono, dosen DMKP FISIPOL UGM hadir sebagai penanggap.

Ria menyatakan bahwa penulisan Membaca Tamansiswa dari Dekat (Budaya Organisasi di Tamansiswa) merupakan tesis S-2-nya di DMKP FISIPOL UGM yang dibukukan dan diterbitkan oleh Gadjah Mada University Press (UGM Press). Penulisan tesis tersebut berawal dari ketertarikan Ria terhadap filsafat Jawa. “Ketertarikan saya terhadap filsafat Jawa menuntun saya untuk menjadi duta museum,” jelas Ria. Sebagai duta museum, Ria pernah ditempatkan di Museum Dewantara, yang kemudian menjadi tempatnya mengenal Tamansiswa.

Tamansiswa, menurut penelitian Ria, berawal dari semangat untuk memperbaiki jiwa dan mental bangsa Indonesia melalui pendidikan. Nilai-nilai tersebut penting dalam konteks kemajuan bangsa Indonesia di bawah penjajahan. “Setelah penjajahan berakhir, kaderisasi Tamansiswa menghasilkan lima menteri dalam delapan kabinet pada era Orde Lama dan anggota DPR Pusat dan Daerah pada era Orde Baru,” jelas Ria.

Kini, menurut Ria, Tamansiswa berkembang menjadi lembaga pendidikan yang perlu berbenah. Ada beberapa nilai budaya dalam Tamansiswa yang menurut Ria perlu direvitalisasi. “Budaya tidak tegaan ala budaya Jawa, misalnya, merupakan budaya yang perlu ditinggalkan karena berpengaruh buruk terhadap perkembangan profesionalisme organisasi,” ujar Ria. Selain merevitalisasi budaya internalnya, menurut Ria, Tamansiswa juga perlu menjelma menjadi gerakan sosial yang lebih inklusif.

Senada dengan Ria, Suparyanto menyampaikan beberapa otokritik terhadap Tamansiswa. Menurutnya, Tamansiswa tertinggal dalam hal mengikuti perkembangan era modern yang serba cepat. “Dahulu, Tamansiswa cukup mengembangkan karakter siswa-siswanya sesuai dengan nilai-nilai Tamansiswa. Kini, Tamansiswa juga harus meningkatkan kapabilitas siswa selain melakukan internalisasi nilai,” jelas Suparyanto.

Lebih lanjut, menurut Suparyanto, Tamansiswa perlu melakukan restrukturisasi internal organisasinya. “Pamong-pamong Tamansiswa perlu dididik untuk meningkatkan kualitas SDM. Hal ini juga perlu disertai dengan regenerasi dan kaderisasi yang bertahap,” jelas Suparyanto. Dalam konteks manajemen organisasi, menurut Suparyanto, Tamansiswa perlu membangun mekanisme pertanggungjawaban yang ketat dan membuat garis besar haluan organisasi.

Menanggapi permasalahan-permasalahan internal Tamansiswa, Ario merefleksikannya dengan konteks UGM. “Saya kira Tamansiswa dan UGM sama-sama mengalami ‘ilusi kebesaran’ dalam mengurus organisasi,” ujar Ario. Ilusi kebesaran membuat dua institusi pendidikan tersebut cenderung menganggap enteng branding institusinya. Mereka merasa institusinya sudah besar sehingga tidak perlu di-branding lagi. Padahal, menurut Ario, branding merupakan elemen krusial yang perlu dipikirkan matang-matang dewasa ini.

Menanggapi perihal ilusi kebesaran, Sakti menyatakan bahwa kejayaan masa lalu suatu institusi tidak perlu diromantisasi. “Fokus Tamansiswa saat ini adalah mengikuti dan beradaptasi dengan perkembangan dunia modern,” jelas Sakti. Kemampuan untuk mengikuti dan beradaptasi dengan dunia modern, menurut Sakti, tidak hanya mampu membuat Tamansiswa bertahan, tetapi bahkan mampu mengembalikan kejayaan masa lalunya. (/bkt)