Teknologi dan Pengelolaan Rusa di Indonesia

Peternakan

Share this :

Penulis: Adji Santosa Dradjat

ISBN: 979-420-939-2

Dilihat: 4160 kali

Ditambahkan: 01 January 2016

Rusa Indonesia atau native and indigenous species of Indonesia ada empat, yaitu rusa Sambar, rusa Timor, rusa Bawean, dan rusa Muncak. Jumlah populasi rusa Indonesia tersebut di habitatnya tidak diketahui dengan pasti, diperkirakan terjadi penurunan populasi karena peningkatan panas bumi (global warming), perubahan musim, kerusakan habitat, penebangan hutan, perburuan liar, dan sebagainya. Rusa termasuk dalam kategori hewan liar dengan sifat liar dan kekuatan tubuh dapat melompat tinggi, berlari cepat, dan selalu menjauh dari permukiman manusia.

Rp22.000,00

Rp40.000,00

Rusa Indonesia atau native and indigenous species of Indonesia ada empat, yaitu rusa Sambar, rusa Timor, rusa Bawean, dan rusa Muncak. Jumlah populasi rusa Indonesia tersebut di habitatnya tidak diketahui dengan pasti, diperkirakan terjadi penurunan populasi karena peningkatan panas bumi (global warming), perubahan musim, kerusakan habitat, penebangan hutan, perburuan liar, dan sebagainya. Rusa termasuk dalam kategori hewan liar dengan sifat liar dan kekuatan tubuh dapat melompat tinggi, berlari cepat, dan selalu menjauh dari permukiman manusia.

Seperti hewan ruminansia lainnya, rusa Sambar dan rusa Timor sudah dibudidayakan di peternakan di Australia, New Zealand, Malaysia, Kaledonia Baru, dan Mauritius untuk produksi daging. Budidaya rusa lebih menguntungkan, karena lebih efisien dengan tenaga kerja yang relatif sedikit, lahan yang relatif kecil, dan mampu mengubah bahan kering menjadi daging lebih efisien dibanding ternak yang lain. Daging rusa (venison) mempunyai rasa yang spesifik (gamey flavor), kadar lemak yang rendah, hasil budidaya mempunyai tekstur yang empuk sehingga menjadi makanan istimewa dengan harga di restoran 2,5 kali lipat harga daging sapi. Dari uraian tersebut, pemerhati rusa menyebut rusa sebagai emas berkaki empat.

Perbedaan dengan hewan ruminansia lainnya, yaitu rusa jantan mempunyai ranggah yang bercabang menjulang dari tulang frontalis. Ranggah mempunyai banyak fungsi, yaitu terkait dengan tingkah laku seksual, berhubungan dengan sifat dominasi, sebagai media interaksi antarjantan dan betina, sebagai senjata dan sebagai pelindung. Di samping itu, ranggah muda rusa dapat digunakan sebagai obat untuk manusia seperti gangguan fungsi persendian, menekan proses keradangan sendi, kerusakan persendian, dan menyembuhkan osteoarthritis. Berikutnya, serbuk ranggah rusa dapat digunakan untuk meningkatkan vitalitas, meningkatkan kesehatan, meningkatkan fungsi seksual, meningkatkan kekebalan, meningkatkan kekuatan atlet, mempercepat kesembuhan dari sakit, luka, stres, dan digunakan sebagai obat kanker.

Berhasilnya penerapan teknologi perkembangbiakan seperti penyimpanan spermatozoa beku, inseminasi buatan, dan embrio transfer memungkinkan untuk memperkenalkan materi genetik antardaerah, antarpulau, antarnegara pada rusa tanpa harus berhubungan dengan prosedur karantina hewan dan transportasi rusa. Teknologi tersebut dapat diterapkan baik untuk memasukkan materi genetik rusa langka dengan populasi kecil ke populasi yang lain untuk menambah variasi genetik guna mencegah inbreeding dan mencegah rusa langka dari kepunahan. Rusa Indonesia dengan badan besar seperti rusa Sambar dan rusa Timor mempunyai peluang yang baik untuk penerapan pengembangan industri peternakan rusa untuk kesejahteraan masyarakat dan membantu konservasi rusa sebelum termasuk dalam daftar hewan yang terancam punah (endangered species).

  • Bahasa Teks Buku Indonesia
  • Cetakan Pertama, 2014
  • Tebal 166 Halaman
  • Ukuran 15,5 x 23 cm
  • Kode Buku T070
  • Categories Peternakan, Agro & Fauna