Tata Kelola Destinasi: Membangun Ekosistem Pariwisata

Sosial & Humaniora

Share this :

Penulis: DR. Frans Teguh, MA

ISBN: 978-602-386-071-3

Dilihat: 8462 kali

Ditambahkan: 28 September 2015

‘….A Must Read Book…’, buku ini telah menunjukan bagaimana keberpihakan terhadap kearifan lokal dan gempuran paradigma global dalam dunia kepariwisataan adalah sebuah keniscayaan. Pada saat yang sama buku ini juga menunjukan bagaimana cara memuliakan keragaman budaya lokal dan nilai-nilai luhur yang kita miliki agar menjadi basis dalam merencanakan, membangun dan mengelola pariwisata di Indonesia.

Rp75.000,00

Maaf buku ini sedang tidak tersedia


Dalam perspektif state of the art of management, maka orkestrasi pembangunan kepariwisataan ditentukan oleh faktor : skala, kapasitas, kompleksitas dan sinergi.  Setiap destinasi pariwisata yang memiliki entitas spasial, bisnis, sosial budaya dan lingkungan, memerlukan pendekatan sistemik dalam integrasi ekosistem kepariwisataan untuk menjamin kualitas aktivitas, fasilitas dan pelayanan yang optimal. Tata kelola destinasi pariwisata dengan konsep destination management organization dan destinastion governance, menyeimbangkan penerapan nilai etika, estetika dan ekonomi serta lokalitas untuk menciptakan kualitas pengalaman berwisata, optimalisasi manfaat yang inklusif bagi masyarakat serta lingkungan. Model tata kelola destinasi ke depan memerlukan eksplorasi tatanan nilai, lokalitas, keseimbangan, championship, leadership dan akuntabilitas agar menciptakan keunggulan destinasi yang berkualitas (destination excellence) sekaligus menjadi pilihan dan preferensi wisatawan sebagai destinasi pariwisata masa depan (destnation of the future).

 (1)
... penggalian nilai lokal diadopsi dalam pembangunan kepariwisataan perlu memperoleh perhatian yang seksama untuk meningkatkan kualitas keunikan, kekhasan, lokalitas dan keutuhan yang menjadi ciri pengembangan destinasi pariwisata agar memiliki point of difference dalam kepariwisataan. Buku ini sangat membantu pembaca mencermati stock of knowledge yang dimiliki bangsa ini sebagai aset dan potensi untuk dikembangkan dengan pendekatan nilai tambah dalam konteks economy of experience berbasis nilai etika, estetika, dan ekonomi...

Drs. I Gede Ardika
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata 2001-2004

 (2)
....Buku ini menegaskan pentingnya mengelola kompleksitas di bidang pariwisata dan menawarkan solusi untuk membangun keterpaduan dan ekosistem. Oleh karena itu, upaya kovergensi pendekatan triple bottom line: people, planet dan profit, memiliki korelasi terhadap tumbuh berkembangnya nilai etika, estetika dan ekonomi dan lokalitas dalam rangka peningkatan kualitas pembangunan berkelanjutan di bidang kepariwisataan.

 Prof. Dr. Mari Elka Pangestu
Menteri Perdagangan 2004-2010,
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2011-2014

 (3)
......Untuk memahami sosok pariwisata secara utuh kita harus memandangnya dari berbagai sisi. Sudut pandang nilai adalah salah satu di antaranya. Pariwisata sarat dengan nilai bawaan dan bersua dengan nilai yang tidak selalu sama di destinasi. Lalu destinasi berfungsi sebagai arena kontestasi beragam nilai.Di sini terjadi‘pertarungan’dan interaksi antara nilai etika, estetika, dan ekonomi lokal dengan nilai global yang direpresentasi oleh pariwisata. Interaksi nilai tersebut berlangsung rumit dan sering tidak disadari oleh publik. Bagaimana alur yangterjadi sesungguhnya? Seperti ditegaskan oleh penulis buku ini, “seringkali relasi tidak simetris, sebaliknya menciptakan pola superioritas dan subordinasi, termasuk praktik distribusi ekonomi”. Ia melihat dengan cermat potensi ‘kekalahan’ nilai lokal  dalam kontestasi tersebut. Panggung kontestasi nilai masih didominasi oleh warna nilai global, sehingga memicu sikap antipasti komunitas. Inilah, setidaknya, salah satu yang tercuplik dari dinamika perkembangan destinasi pariwisata. Analisis kritis di dalam buku ini makin membuka mata kita, bahwa ancaman potensial terhadap keberlanjutan destinasi pariwisata itu nyata dan semakin mendekat. Mau tidak mau, hiruk-pikuk pembangunan destinasi saat ini harus disangga dengan nilai lokal yang kokoh. Caranya, seperti disarankan penulis,adalah nilai lokal yang positif sangat perlu diakomodasi di dalam aplikasi tata kelola destinasi.Arena pertukaran yang berimbang perlu disiapkan agar hanya nilai-nilai positif internal dan eksternal yang muncul dalam tata kelola destinasi. Analisis dan saran yang disampaikan sangat tepat.

 Prof. Dr.-Phil. Janianton Damanik, M.Si
Guru Besar FISIPOL UGM& Kepala Pusat Studi Pariwisata UGM

(4)
‘….A Must Read Book…’, buku ini telah menunjukan bagaimana keberpihakan  terhadap kearifan lokal dan  gempuran paradigma global dalam dunia kepariwisataan adalah sebuah keniscayaan. Pada saat yang sama buku ini juga menunjukan bagaimana cara  memuliakan keragaman budaya lokal dan nilai-nilai luhur yang kita miliki agar menjadi basis dalam merencanakan, membangun dan mengelola pariwisata di Indonesia.

Budi Faisal, Ph.D,
Kepala Pusat Prencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan (P-P2PAR, ITB)

 



  • Bahasa Teks Buku Indonesia
  • Cetakan Pertama, September 2015
  • Tebal 266 halaman
  • Ukuran 18,5 cm X 25 cm
  • Kode Buku T074
  • Categories Sosial & Humaniora, Pariwisata