Ragam Kuliner Aceh: Nikmat yang Sulit Dianggap Remeh

Teknologi Pertanian

Share this :

Penulis: Murdijati Gardjito , Umar Santoso , Nurullia Nur Utami

ISBN: 978-602-386-284-9

Dilihat: 1996 kali

Ditambahkan: 29 January 2018

Hadirnya buku ini diharapkan mampu menjadi dokumentasi kekayaan budaya Indonesia dan dapat digunakan sebagai sarana untuk memperkenalkannya ke masyarakat luas. Dengan adanya dokumentasi tersebut, kuliner Indonesia, khususnya Aceh akan tetap dikenal oleh bangsa Indonesia di masa yang akan datang. Semoga buku ini akan disusul oleh dokumentasi kuliner daerah lainnya di Indonesia.

Rp60.000,00

Rp75.000,00

Salah satu daerah di Indonesia yang memiliki kuliner yang unik ialah Aceh. Aceh dengan berbagai suku bangsa yang mendiaminya, di antaranya Aceh, Alas, Gayo, Aneuk Jamee, Kluet, Singkil, dan Tamiang memiliki ragam kuliner yang cukup kaya. Dalam hal bahan baku, Aceh memiliki berbagai bahan yang unik, sulit dijumpai di daerah lain, seperti ikan depik. Dalam hal ragam bumbu, masakan Aceh tetap memiliki ciri khas masakan Indonesia, tetapi berbeda dari daerah lainnya. Hal ini tidak terlepas dari faktor historis, bahwa pada masa lalu Aceh pernah menjadi salah satu wilayah penting dalam jalur perdagangan rempah-rempah dunia. Tentu saja hal itu membawa konsekuensi kontak dengan berbagai budaya. Oleh karena itu, penggunaan bumbu dalam masakan Aceh terpengaruh oleh masakan Arab, Timur Tengah, India, Portugis, dan daerah lainnya. Pengaruh masakan Nusantara seperti Jawa dan Melayu pun turut berperan dalam kekhasan masakan Aceh.

Selain pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari, beberapa makanan khas Aceh juga memiliki aspek sosial-budaya. Beberapa masakan terkait dengan upacara tertentu, yakni upacara yang berkaitan dengan tradisi lokal (bertani dan mendirikan dapur), daur kehidupan, dan tradisi keagamaan. Yang sangat unik, dalam masyarakat suku Aneuk Jamee, acara memasak lemang bukan sekadar memasak, tetapi juga untuk mewariskan keterampilan memasak dari generasi tua ke generasi muda karena semua terlibat dan mendapatkan pembagian kerja sesuai usianya. Dengan demikian, makanan juga berfungsi sebagai alat untuk memperkuatkan interaksi sosial.

Hadirnya buku ini diharapkan mampu menjadi dokumentasi kekayaan budaya Indonesia dan dapat digunakan sebagai sarana untuk memperkenalkannya ke masyarakat luas. Dengan adanya dokumentasi tersebut, kuliner Indonesia, khususnya Aceh akan tetap dikenal oleh bangsa Indonesia di masa yang akan datang. Semoga buku ini akan disusul oleh dokumentasi kuliner daerah lainnya di Indonesia.