Tunneling dan Corporate Governance

Ekonomi & Bisnis

Share this :

Penulis: Ratna Chandra Asri dan Sugiharto

ISBN: 979-420-947-3

Dilihat: 4285 kali

Ditambahkan: 01 November 2014

Secara harfiah, tunnel berarti terowongan. Terowongan adalah tembusan dalam tanah atau gunung (untuk jalan kereta api, mobil, air, dan sebagainya). Dalam istilah keuangan, tunneling adalah transfer sumber daya keluar dari perusahaan untuk kepentingan pemegang saham pengendali. Jika terowongan digunakan untuk jalan air, kereta, atau mobil, maka tunneling dalam istilah keuangan merupakan proses untuk mengalirkan sumber daya keluar dari perusahaan untuk kepentingan pemegang saham pengendali.

Rp6.000,00

Rp30.000,00

Secara harfiah, tunnel berarti terowongan. Terowongan adalah tembusan dalam tanah atau gunung (untuk jalan kereta api, mobil, air, dan sebagainya). Dalam istilah keuangan, tunneling adalah transfer sumber daya keluar dari perusahaan untuk kepentingan pemegang saham pengendali. Jika terowongan digunakan untuk jalan air, kereta, atau mobil, maka tunneling dalam istilah keuangan merupakan proses untuk mengalirkan sumber daya keluar dari perusahaan untuk kepentingan pemegang saham pengendali. 

Tunneling terjadi di dunia bisnis, namun sulit terdeteksi oleh otoritas legal. Rendahnya penegakan hukum, sistem corporate governance yang buruk, dan rendahnya kualitas disclosure di Indonesia, menyebabkan kasus-kasus tunneling tidak terdeteksi. Permasalahan tunneling merupakan salah satu penyebab terjadinya krisis Asia 1997–1999. Jika tidak dikendalikan, tunneling dapat menyebabkan kerugian bagi perusahaan, masyarakat, pemegang saham nonpengendali (minoritas), bahkan menyebabkan kerugian negara.

Struktur kepemilikan grup pada perusahaan publik di Indonesia menyebabkan hampir seluruh perusahaan publik di Indonesia melakukan transaksi pihak berelasi. Beberapa transaksi berelasi bertujuan untuk efisiensi dan untuk meningkatkan kesejahteraan grup. Akan tetapi, dalam kondisi tertentu transaksi antarpihak berelasi dapat memberikan peluang bagi pemegang saham pengendali atau eksekutif perusahaan untuk melakukan tunneling atau mengambil keuntungan pribadi dengan mengorbankan kepentingan pemegang saham nonpengendali. Penyalahgunaan transaksi antarpihak berelasi menjadi tantangan utama bagi integritas perkembangan pasar modal Asia. Penertiban transaksi pihak berelasi tersebut menjadi garis depan reformasi corporate governance Asia. Buku ini membahas mengenai model prediksi tunneling, yaitu model untuk mendeteksi penyalahgunaan transaksi berelasi dan efektivitas corporate governance dalam mencegah aktivitas tunneling.