Centhini Tambangraras-Amongraga Jilid XII

Budaya

Share this :

Penulis: Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkunagara III (Sunan Paku Buwana V)

ISBN: 979-420-648-2

Dilihat: 1529 kali

Ditambahkan: 01 December 2008

Serat Centhini yang ditulis dalam kurun waktu 1814-1823 dan oleh penyadurnya disebut sebagai “Ensiklopedi Budaya Jawa” merupakan buku yang sangat berharga mengingat buku ini membicarakan banyak perkara. Ia begitu kaya dengan perincian situasi dan peristiwa. Ceritanya selalu mengandung maksna yang bisa diamalkan dalam kehidupan riil. Cara berceritanya pun sangat khas. Semuanya menjadikannya pantas dibaca oleh individu-individu yang senang berpikir. Ia juga layak dibaca oleh mereka yang ingin memperoleh nilai-nilai agung di dalam kehidupan yang sudah menampakkan ciri pragmatism.

Rp27.000,00

Rp45.000,00

Jayengresmi dan Jayengraga kembali ke Wanamarta dalam rombongan besar. Begitu bahagianya Ki Bayi Panurta bertemu kembali dengan anak-anaknya, rombongan itu dijamu besar-besaran. Sementara itu, Seh Amongraga dan istrinya, Niken Tambangraras, kembali ke Wanamarta dalam keheningan.  Seh Amongraga memberikan berbagai macam wejangan kepada beberapa orang dari rombongan yang mengiringi kepulangan Jeyengresmi dan Jayengraga.

Seh Amongraga dan Niken Tambangraras yang berada dalam alam keheningan berkeinginan menjadi raja. Keduanya lalu mengubah diri menjadi gendhon. Gendhon laki-laki kemudian disantap oleh raja, Sultan Agung, sedangkan gendhon perempuan kemudian dimakan oleh Pangeran Pekik. Kelak, permaisuri raja berputra laki-laki dan istri Pangeran Pekik berputra perempuan. Keduanya lalu dijodohkan, dan yang laki-laki menjadi putra mahkota. Akhirnya putra mahkota menggantikan ayahnya, dan bernama Sultan Amangkurat.

  • Bahasa Teks Buku Indonesia
  • Cetakan Pertama, Desember 2008
  • Tebal 250 halaman
  • Ukuran 14,5 cm x 21 cm
  • Kode Buku C016
  • Categories Budaya, Sosial & Humaniora